6 Prinsip Manajemen Keuangan Syariah

Grapadinews.co.id – Gejolak di pasar keuangan global telah menyebabkan sistem alternatif intermediasi keuangan mengalami peningkatan popularitas dalam beberapa tahun terakhir, utamanya perbankan dan keuangan syariah. Bank syariah merupakan instansi yang menerapkan dasar dan hukum Islam dalam setiap transaksi dan produknya. Dengan harapan masyarakat mendapatkan pelayanan yang baik dan bertransaksi dengan aman.

Namun pada dasarnya, bank syariah di sini dianggap hampir sama dengan konvensional meskipun telah menerapkan hukum dan dasar Islam. Lantas bagaimana sih seharusnya konsep keuangan menurut Islam itu? Simak ulasannya berikut ini!

1. Memahami konsep keuangan menurut Al-Qur’an

Istilah ‘Qur’an’ berasal dari kata qara’a yang berarti ’membaca’. Bagi umat Islam, Kitab Suci ini adalah bukti dari mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad, serta panduan paling lengkap bagi umat Muslim di seluruh dunia. Di dalamnya tercantum seluruh aspek kehidupan, salah satunya yakni soal keuangan dan hukum syariah.

Al-Qur’an berisi 114 surat, 6.235 ayat dan berisikan wahyu nyata. Di dalamnya juga terdapat percakapan antara Allah kepada Nabi Muhammad untuk menunjukkan bahwa mukjizat yang diberikan kepada beliau benar adanya.

Di dalamnya dengan jelas tercantum bahwa sistem keuangan yang diperbolehkan menurut Islam ialah yang tidak mengandung riba. Riba berarti bunga pinjaman yang dibebankan kepada si peminjam. Besarnya biasanya tergantung dari kebijakan masing-masing instansi.

2. Sesuai Syariah

Syariah berarti ‘jalur yang harus diikuti’. Tidak hanya yang mengarah pada Allah, tetapi sesuatu yang harus dipercayai oleh umat Islam sebagai pedoman akan kebenaran. Untuk itulah mengapa muslim wajib menjalankan hal tersebut untuk kehidupan lebih baik.

Meskipun setiap Muslim berhak membeirkan pendapat tentang apa pun itu, namun seberapa tinggi jabatan dan ilmu tidak ada yang boleh mengubah hukum Allah. Syariah merupakan sesuatu yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an. Sementara yang tercantum di sana berasal dari Sang Pencipta.

Pada dasarnya hukum Islam didasarkan pada konsep syariah untuk kepentingan semua umat. Pada bidang keuangan, banyak instansi dan praktik-praktik finansial utamanya bank-bank di Barat sudah jauh berbeda dengan konsep yang dianjurkan oleh Islam. Sedangkan sejak dahulu hingga sekarang bank-bank berbasis syariah tidak diizinkan membuat uang dan kebijakan.

3. Menggunakan prinsip Murabahah

Istilah Murabaha mengacu pada suatu bentuk kredit perdagangan atau pinjaman di mana bank syariah mengambil kepemilikan konstruktif atau fisik aset tersebut. Aset itu kemudian dijual kepada pembeli untuk mendapatkan keuntungan. Sedangkan orang tersebut diizinkan membayar bank dengan sejumlah uang tertentu.

4. Menjaga keuangan dengan Sukuk

Umumnya salah satu cara untuk meningkatkan pendanaan utang perusahaan adalah dengan menerbitkan obligasi. Dalam situasi ini, pemegang obligasi menerima bunga dan itulah yang selalu dibayarkan sebelum dividen dibayarkan kepada pemegang saham.

Namun menurut hukum Islam, metode pengumpulan dana ini tidak diizinkan karena bunga dilarang. Sebaliknya, obligasi syariah (dikenal sebagai sukuk) terkait dengan aset dasar yang disusun sedemikian rupa, sehingga pemegang sukuk adalah pemilik sebagian dari aset dasar tersebut. Laba sudah termasuk itu.

5. Menjauhi riba

Kata riba dalam hukum Islam berarti menambahkan sesuatu dari batas normal. Jadi secara luas dapat diartikan sebagai penambahan jumlah pokok pinjaman sesuai dengan waktu yang disepakati. Dengan kata lain sama halnya dengan bunga.

Sementara itu, pada hukum syariah berusaha untuk menghilangkan pembayaran dan penerimaan bunga dalam segala bentuk. Sebab pertama pengembalian tidaklah sesuai dengan yang dipinjam. Kedua, tentu saja dapat merugikan salah satu pihak.

6. Prinsip pada bank syariah

Bank syariah harus memenuhi prinsip-prinsip Islam. Maka mereka harus mengikuti poin-poin berikut untuk bisa dikatakan aman dan tidak merugikan masyarakat.

  • Tidak boleh membiarkan pinjaman disertai dengan bunga. Tanda terima dan pembayaran oleh riba sangat dilarang.
  • Pembagian untung dan rugi harus sesuai dengan sistem perbankan Islam.
  • Semua transaksi keuangan harus didukung aset. Dengan kata lain, menghasilkan uang dari uang tidak dapat diterima oleh hukum Islam.
  • Perilaku spekulatif dilarang.
  • Hanya kontrak yang disetujui oleh syariah yang dapat diterima.